Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan

Senin, November 18, 2013

mungkin

mungkin...

mungkin hari ini kita melihat hal yang paling mengerikan,
mungkin hari ini kita mendengar kabar yang paling menakutkan,
mungkin hari ini kita merasakan sesuatu yang paling menyesakkan,

tidak mengapa.

karena setelah hari ini kita tidak akan takut lagi.
karena setelah hari ini kita akan bangkit.
lebih berani,
lebih kuat,

karena masa depan bisa saja lebih indah jika kita mau merencanakannya,
dan jika Allah menghendakinya,
In shaa Allah.

Kamis, Oktober 31, 2013

selalu

hi there

kamu selalu begitu.
datang dengan ke'biasa'an-mu.
membuat aku tersipu.
menggantungkan harapan dengan malu-malu.
membalas setiap pesan dengan rindu.

lalu kamu juga selalu begitu.
pergi dengan ke'biasa'an-mu.
membuat aku terpaku.
tanpa harapan, aku bisu.
tanpa balasan, aku pilu.

Minggu, Oktober 20, 2013

Walau Hanya Ada Aku

“Tuh kan, di novel aja cowok-cowok pada seneng sama cewek cerewet kok, cewek yang independen, cewek yang bisa dengan jelas mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bukan cewek kelemer-kelemer kaya tipe cowok kebanyakan yang aku temuin di sekitar kita! Dasar payah!”

Seorang gadis tampak terlalu menggebu-menggebu meluapkan pendapatnya. Pemuda di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala mendengar opini dangkal sahabatnya itu.

“Emang dasar kamu aja cewek tukang ngayal!” cetusnya.

“Heh! Jangan asal nuduh gitu, dong!”

Pemuda itu tersenyum melihat wajah cemberut sahabatnya. Puas karena berhasil menyulut amarahnya, sehingga gadis itu mulai memperlihatkan ekspresi merungut yang terlihat lucu di matanya. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain berhasil membuat sahabatnya ini marah dan mengeluarkan ekspresi layaknya anak kecil yang dicuekin. Menggemaskan!

“Kenapa sih kamu malah senyum-senyum gitu?”

Pemuda itu mendekati sahabatnya. Meletakkan tangannya di puncak kepala gadis itu, menggerak-gerakkannya perlahan-lahan dan mulai mengacak-acak rambutnya. Gadis itu diam saja diperlakukan begitu oleh sahabatnya. Seolah hal itu memang biasa diterimanya, seolah hanya dengan begitu kemarahannya dapat diredakan, seolah semua itu dapat menenangkannya. Pemuda tersenyum lagi sembari terus memandangi sahabatnya.

“Terus kenapa emangnya kalo mereka suka cewek pendiam? Terus kenapa emangnya kalo mereka payah, suka jaga image, dan sejuta kebodohan lainnya kalo kamu memiliki aku?”

Gadis itu masih diam. Masih menunggu penjelasan pemuda itu. Masih menatap sahabatnya. Saling tatap, saling mengerti.

“Tidak cukupkah hanya ada aku yang akan selalu menyukai tipe gadis semacam itu, yang cerewet, independen, dan bisa dengan jelas mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan? Menyukai kamu? Masih kurang kah?”


Gadis itu menggeleng. Keduanya lalu tersenyum pelan, masih saling menatap, saling mengerti, saling menyukai![]

[New Project] Story about HER

hi there!
mengetahui bahwa selarik kebiasaan gadis itu masih ada pada diri gue sedikit banyak membuat gue sangat bahagia. menulis. gue termasuk orang yang gampang berimajinasi. dan mengetahui bahwa saat ini gue sedang dalam misi besar menyelesaikan project "Story about HER" membuat gue bersemangat!

yoi, "Story about HER" adalah tulisan fiksi gue yang menceritakan kisah cinta seorang gadis. tulisan ini sebenarnya terinspirasi dengan kisah nyata (bukan pengalaman pribadi lho!), tapi gue mencoba mengemasnya seapik mungkin, sebisa gue sih ya. cerita ini belum selesai, dan "Story about HER" bukanlah judul dari cerita ini. gue menamakannya begitu agar gue tetap ingat kemana sebenarnya jalan dari kisah ini dan bagaimana menyelesaikannya hingga akhir. alur ceritanya mungkin sederhana, tapi sampai sekarang gue juga belum tahu endingnya bakal kaya gimana. gue masih berusaha keras, dan ya, inspirasi itu datangnya memang cuma sepotong-sepotong. semangat!

oya, gue memposting tulisan ini ke blog gue yang satu lagi. kalau mau baca ini link-nya. tapi maaf, postingannya ga rapi. maklum, gue agak amatir menggunakan fitur di blog tetangga. dan kalo ada salah ketik, dan spelling yang aneh, maaf, karena tulisan itu juga belum sempat di edit, gue cuma copy paste aja dari word. hehehe :D

Jumat, Oktober 18, 2013

Ceritaku

Hi there!

Hari ini ceritaku lagi tentangmu. Selalu menyenangkan bila cerita ini tentangmu. Meski ceritaku ini membuat aku mengintip lagi hal yang paling ingin aku tinggalkan. Tapi memang selalu menyenangkan bila cerita ini tentangmu.

Mungkin karena aku sedang merindu. Untuk sekedar bilang 'halo' pun aku tak mampu. Meski begitu tetap selalu menyenangkan bila cerita ini tentangmu.

Halo, aku merindumu...

Minggu, Februari 17, 2013

produktif

hi there!

jangan hanya menuntut, cobalah untuk bertindak
being productive is the real teenager nowaday :)

selamat berhari libur :)

kerjaan pertama

hi there!

Alhamdulillah.. kemarin, tepatnya 16 Februari 2013, BEM KM Fakultas Farmasi Universitas Andalas kembali melahirkan kader - kader yang insya Allah jika istiqamah dengan tanggungjawabnya maka akan meng-inspirasi banyak orang, sesuai dengan nama kabinetnya, "Kabinet Inspiratif". Alhamdulillah, gue masih diamanahin untuk menjadi staff yang nantinya bersama dengan yan lain "bergerak" untuk meng-inspirasi. kalau tahun lalu gue ditempatkan di Departemen Jaringan (sekarang: Eksternal), maka tahun ini gue dipercaya untuk menjadi staff Infokom yang di koordinator-i oleh Sherly Octiza (one of my "pouers" :*). semoga gue bisa menjalankan amanah ke depannya dengan EXCELLENT! Amiin Ya Allah...

Anyway, walopun baru dilantik, Alhamdulillah lagi nih, bu koor udah ngasih gue kepercayaan untuk bikin pamflet tentang "bintang aktivis" yang merupakan salah satu program kerja Departemen PSDM. secara gue emang suka sih photoshop, tapi gue ngga terlalu pengalaman nih sama yang namanya bikin pamflet, brosur, spanduk, dan teman temannya, jadi gue agak sedikit berkonsultasi sama Chintya Frestica (one of my "pouers too ;) ) karena tahun kemaren cicit ada di departemen infokom dan emang sering banget diamanahin untuk mendesign pamflet dan teman temannya ini.

jadi, mungkin pamflet gue jauuuh banget dari kaya yang pernah dibikin cicit atau staff infokom lainnya, semoga bu koor dan yang lain pada ngerti yeee.. hehehe :D

ini dia "gawean" pertama gue untuk kepengurusan tahun ini :p


gimana, gimana? bagus ga? :D

Selasa, November 27, 2012

Dastan: confess!


Jihan hentikan, kamu tidak seharusnya melihat itu semua! Semakin kamu melihatnya kamu akan semakin terluka, Jihan. Berhenti sekarang, atau aku akan menarikmu pulang dengan paksa!

“Dastan, lihat Jaden, dia kelihatannya sedang terluka. Aku harus ke sana, aku harus menanyakan perasaannya. Aku harus menghibur Jaden!”

Tidak! Jihan, kamu tidak seharusnya berpikir untuk menghibur orang yang jelas – jelas melukaimu. Jelas-jelas tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Kamu tidak perlu bermanis-manis padanya, Jihan. Kamu benar-benar tidak perlu melakukan hal itu!

“Dastan, tidak bisakah aku mendatanginya hanya untuk berkata bahwa aku selalu siap untuk mendengar keluh kesahnya?”

Sekali lagi, kamu sungguh tidak perlu, Jihan!

“Dastan! Kenapa kamu diam saja? Aku jelas-jelas bertanya padamu…”

Jihan, kamu tidak perlu merengek demi orang yang jelas-jelas tidak memahami perasaanmu.

“Jihan, kamu… tidak apa-apa?”

“Hm? Kenapa aku harus apa-apa?”

“Jaden… kamu tahu dia menangisi siapa. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri?”

“Dastan, menyayangi seseorang itu tidak berarti kamu harus menerima perasaan itu kembali. Walau kamu tahu hal itu justru membuatmu sakit, tapi kamu akan lebih sakit lagi melihat orang yang kamu sayangi tersakiti oleh orang lain.”

Aku tahu, itulah yang sedang aku rasakan. Untuk itulah aku tidak ingin kamu sakit lagi, Jihan.

“Aku… sangat menyayangi Jaden. Karena itulah aku tidak bisa melihatnya bersedih seperti sekarang. Apa yang harus kulakukan, Dastan?”

Tidak ada, tidak ada! Tidak bisakah kamu hanya melihatku saja sekarang? Jika kamu tidak merasakanku Jihan, akulah yang akan memintamu melakukannya. Kamu tidak perlu hanya selamanya menyayangi yang tidak menyayangimu. Berhentilah menyakiti hatimu sendiri!

“Jihan…”

“Hm?”

“Tidak bisakah kita berhenti sekarang? Aku tidak suka melihatmu sedih hanya karena Jade menangisi orang lain. Kamu tidak bisa selamanya mengasihani perasaanmu sendiri!”

Jangan menunduk Jihan, dengarkan permintaanku!

“Jika kamu tidak mau melakukannya, maka aku yang akan memintamu. Berhentilah sekarang Jihan! Aku memintamu untuk hanya melihatku sekarang! Mungkin sulit bagimu, tapi berusahalah! Aku akan ikut berusaha meyakinkanmu, dan menunggu, hingga kau datang…”

Jangan air mata lagi. Aku mohon, Jihan… tapi tatapanmu! Ini… tatapan yang paling mampu membuat aku terjatuh dalam tatapanmu. Aku, sungguh jatuh cinta padamu, Jihan.

Senin, Agustus 27, 2012

Untuk Hujan

Jakarta, 25 April 2007

Tuhan...
Kenapa aku harus melihatnya tersakiti sebegitu banyak karena aku?
Kenapa aku harus melihatnya menangis karena aku?
Kenapa kami tidak dapat bersama?
Dan...
Kenapa aku memimpikan itu tadi semua?

Tuhan...
Engkau yang tahu betapa aku sangat merindukannya saat ini...

Dari,
Pelangi

Kamis, Mei 24, 2012

Pharmacist Blogger Award

hi there! mungkin sebagian sudah tau kalo gue adalah anak Farmasi. hell yeah~ maaf kalo gue belum bisa nge-share sesuatu pun hal tentang ilmu yang sedang gue dalami ini. karena.... emang dasarnya gue belum kawin nih sama ilmu ilmu farmasi ini. cuman, gue emang ga mau lepas dari sini, semacam udah ada chemistry, tapi belum nyatu! gimana sih maksudnya? ga tau juga! ha!


jadi ceritanya, senior gue di kampus dan di dunia per-blog-an, kak SS (baca: Es Es), menawarkan sesuatu hal yang menarik, yaitu PHARMACIST BLOGGER AWARD ! dengan tema: “SUARAKAN PERUBAHAN melalui BLOG, demi FARMASI yang LEBIH BAIK!”






mengutip istilah yang dipake kak SS tentang "lempar - lemparan award" ini, dan adanya bau "persaingan" sebenarnya menambah bumbu ketertarikan gue ingin mendapatkan award ini, tapi... malangnya, buat sekarang gue belum sanggup aja untuk share sesuatu tentang ilmu gue. secara gue maunya cara gue nantinya dalam menyampaikan ilmu ini ga monoton, ga cuma sekedar copy and paste kalimat - kalimat yang udah ada aja. kalo gitu mah, mungkin anak - anak farmasi bisa aja cari di buku yang bisa ngasih info lebih banyak dari yang gue bisa.


harapan gue cuma satu, info yang nantinya gue share di sini, buat yang baca ga cuma berhenti di paragraf pertama, tapi bisa nagih baca ke paragraf selanjutnya dan selanjutnya. kalo bisa, mereka minta nambah! hahaha bacrit banget ya gue, tapi suatu saat gue emang pengen, seenggaknya sekali aja dalam blog gue, gue bisa share ilmu yang gue dapet di bangku kuliahan.


so, kesannya gue ke kampus mahal - mahal cuma untuk duduk dan mengantuk. yah, walaupun sejauh ini memang itu yang gue lakukan. hahaha. wish me luck ya dalam "lempar - lemparan award" ini!


p.s.


kak Es, ela tangkep award-nya kak! walaupun sampai ela ngetikin huruf terakhirnya ini, ide untuk menulis entry-nya masih 0 besar :p

Jumat, Mei 18, 2012

prosa: Selamat Ulang Tahun, Jihan.

Jihan,

dengan keramahan dan paras sempurna yang kamu punya semua orang pasti, sangat menyukaimu. dengan segala prestasi yang kamu punya, siapa yang tidak ingin menjadi bagian dalam hidupmu. tapi mereka tidak tau apa - apa tentang kamu melebihi apa yang aku ketahui. terutama dirimu yang saat ini. kamu yang selalu cantik saat sedang membaca buku.

mungkin semua orang tau kamu sangat mencintai segala hal tentang film dan photography. bagaimana kamu mengharumkan nama sekolah kita dengan karya film pendekmu dan pameran photomu tentang anak - anak jalanan. tapi mereka tidak tau bahwa kamu jauh lebih mencintai buku di atas apapun.

aku ingat ketika aku dan kamu jalan - jalan ke toko buku dengan mama - mama kita sewaktu kita kelas 3 Sekolah Dasar.

"kamu nggak beli buku?" tanyamu waktu itu.


aku hanya melirik kamu yang sudah memeluk tiga buah buku dalam dekapanmu. "apa enaknya sih baca buku?" tanyaku kemudian.

kamu tersenyum, seakan telah menanti aku akan menanyakan hal itu. lalu kamupun menjelaskan dengan antusias. "baca buku itu asik. terutama buku - buku dongeng. kamu seperti bisa menemukan dunia lain yang baru dan benar - benar seru, walaupun itu hanya ada dalam pikiran kamu. semacam... surga imajinasi!" begitulah kira - kira penjelasanmu saat itu.

sejak saat itu Jihan, sejak saat itu kamu yang sedang membaca buku terlihat sangat cantik bagiku. bagaimana jawaban cerdasmu yang membuat hatiku ikut bergetar - getar merasakan semangat yang kamu alirkan. padahal kita masih siswa kelas 3 SD.

"suatu saat, aku akan punya sebuah perpustakaan mewah milikku sendiri..." kamu melanjutkan bercerita tentang mimpimu.

lalu aku ingat beberapa waktu yang lalu, seusai pameraan fotomu yang sukses diselenggarakan pada acara ulang tahun sekolah kita, saat aku tengah memandangimu foto yang menjadi karya terbesarmu, kamu datang menghampiriku.




"kamu suka foto ini?" tanyamu.

aku tersenyum. "ya, seakan menggambarkan apa yang sebenarnya sangat kamu cintai di dunia ini."

kamu pun ikut tersenyum. "aku sedang merampungkan perpustakaan itu. kalau sudah jadi, kamu pasti orang pertama yang aku undang ke sana."

"semoga..."

hari ini, kamu yang berdiri tidak jauh di hadapanku, mungkin mungkan Jihan yang aku kenal dulu. karena aku sangat mengerti ada luka yang sedang kamu pelihara di hatimu, walaupun aku tidak tahu itu apa. yang jelas itu sangat tergambar di matamu. tapi kecintaanmu pada buku masih sama. dan aku percaya bahwa mimpi itu masih ada, dan kamu sedang merampungkan untuk mewujudkannya.

"hai..." sapaku.

"Dastan?" kamu tampak terkejut, tentu saja. karena memang aku tidak mengabarimu bahwa aku akan datang dari Australia setelah kepindahanku 6 bulan yang lalu.

"aku sedang berlibur. aku tadi mampir ke rumah kamu, kata tante kamu lagi nggak ada di rumah. aku tau, kamu pasti ke sini."

"sejak kamu pindah, nggak ada yang suka nemenin aku ke toko buku." lalu kamu melirik tas tangan yang aku tenteng dengan ekspresi heran. "kamu... beli buku? tumben!" sindirmu.

aku tau, aku tau mengapa ekspresimu begitu. karena seperti aku mengenalmu, kamu pun sangat mengaliku yang tidak terlalu suka membaca buku.

"aku... mau bantuin kamu ngewujudin impian kamu. ini hadiah dariku, Selamat Ulang Tahun..."

kamu menatapku dengan sorot mata yang mampu menggetarkan hatiku. dan ada sebutir air mata bak mutiara yang mendadak mengalir pipimu.

"selamat ulang tahun, Jihan..."

aku, menyayangimu...

Selasa, Mei 01, 2012

Sayonara (Cinta Begini)

malam itu, percakapan di antara kami cukup sengit.

"kamu, nggak bisa ngambil ketegasan? takut berkomitmen?" tanyaku.

"hmm... bagaimana ya. mungkin menurutmu aku orang paling egois di dunia. tapi, inilah yang kurasakan. seperti yang telah aku bilang tadi, aku memang tidak bisa jika harus memilih di antara kamu dan dia," jawabnya.

aku menghela napas. walau aku tau dia tidak akan mendengarnya karena kami bercakap - cakap hanya lewat media internet saja. kau taulah, salah satu fasilitas chat yang terkenal di dunia.

"apa Ruka juga pernah bertanya hal seperti ini padamu, Ryu?" aku masih memberondongkan pertanyaan pada Ryu.

"kamu tau sendiri kan, Chizuru, Ruka dan kamu tidak sama. aku tau dalam benaknya ada pertanyaan pertanyaan begini. tapi dia hanya... nggak berani untuk mengutarakannya langsung padaku."

nada bicara Ryu terdengar semakin lemah. mungkin dia sudah menduga - duga akan seperti apa akhir percakapan kami malam ini. mungkin juga, Ryu sudah tau bagaimana aku akan mengambil keputusan. sebenarnya aku juga bisa saja langsung mengutaran keputusanku. tapi tidak begitu saja kulakukan. karena aku tau, bisa saja malam ini merupakan saat - saat terakhir aku dapat dan mau bercakap - cakap dengan Ryu.

"Chizu, kamu diam."

aku tau itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan. aku tersenyum.

"aku hanya sedang berpikir... kamu, memang orang paling egois di dunia. aku tau. tapi untuk urusan seperti ini, kamu harus tau kalau aku sangat sangat membencimu!"

gantian, kini giliran Ryu yang diam. aku tau dia sedang menanti lanjutan kalimatku. Ryu-hanya-menunggu.

"baiklah... karena kamu hanya menunggu, maka aku akan segera menyampaikan keputusanku, Ryu. aku... tidak bisa menjalani ini semua lebih lama lagi. aku... mengalah saja. berbahagialah dengan Ruka. oh, apa yang aku pikirkan? tentu saja kamu bahagia..."

aku tau, saat mengatakannya air mataku meleleh dengan sangat deras. aku tidak pernah sesakit ini sebelumnya. bagaimana bisa ada kisah cinta begini? yah, kalau saja kisah ini memang layak dinamakan kisah cinta.

"selamat tinggal, Ryu..."

tidak sepatah katapun keluar dari mulut Ryu. saat aku berharap mendengar suaranya untuk terakhir kali, Ryu justru diam. hingga aku mengakhiri percakapan kami malam itu, Ryu tetap diam.



Aku bisa terima
Meski harus terluka
Karena ku terlalu, mengenal hatimu
Aku telah merasa
Dari awal pertama
Kau takkan bisa lama, berpaling darinya
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar
Tuk sementara
Reff:
Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini
Karna cinta tak akan ingkari, Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biarku yang mengalah, Aku terima
Saatnya kembali , nurani bicara
Ku tak bisa terima
Bila terus tak setia
Mengkhianati dia, menduakan cinta
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar
Tuk sementara
Back to Reff
Sebentar ku telah kecewa
Biarlah aku pergi
Nikmati luka ini
Perih ini.. Sendiri..

Tangga - Cinta Begini


p.s.
hi there! cerita ini fiksi kok :D dedicated for my bestfried, 이마
:)

Kamis, April 26, 2012

selamat ulang tahun, Wella :)

saengil chukha habnida
saengil chukha habnida
saranghaneun uri wella
saengil chukha habnida






kamu pasti ingat lirik lagu di atas bukan? setiap ada teman kita yang tengah bahagia menyambut kembali hari lahirnya, kita pasti akan menyanyikan lagu ini dengan lantang, dengan ekspresi yang ceria. seolah kita ikut melarut dalam kebahagiaan yang tengah dirasakannya.


betapa besar arti sahabat bagi hidup kita. saat seluruh dunia tertawa memeluk kita, sahabat mungkin hanya dapat tersenyum dari jauh. diam diam dalam hatinya turut merasakan tawa yang terbit di wajah bahagia kita. tapi ingatlah, di saat seluruh dunia justru menjauhi kita, menolak memberikan keramahan sebagaimana biasa, bahkan di saat kita tak tahu alasan sebenarnya, ketahuilah hanya dia yang hadir memeluk kita. dan aku... sungguh ingin menjadi andil yang sebijaksana itu dalam hidupmu.


sering kita tertawa bersama, berjalan bergandengan, berpelukan, menghapus air mata satu sama lain, tak jarang juga kita mulai berdebat, berbicara dalam nada tinggi, enggan bertegur sapa. ketahuilah justru itu kulakukan karena kedekatan kita. untuk kamu ketahui, kamu memiliki ruang tersendiri di hatiku. bagaimana bisa? entahlah, waktu dan kebersamaan kita yang menemukan caranya.


hari ini kamu bahagia, tentu, karena aku juga dapat merasakannya. hari ini kamu kecewa, entah, tapi sungguh hanya ini sedikit yang dapat kulakukan sebagai hadiah di hari istimewamu yang menjadi hari istimewa bagiku juga. ya, hari ini tetap istimewa, tetap spesial, walau kita tau sebenarnya justru hari ini harus kita takutkan, karena berarti jatah umurmu telah bergugur satu.


doaku...
semoga kamu, aku, kita, dapat bertumbuh menjadi pribadi yang dapat menebar kebaikan dimanapun kita berada.
kedewasaan memang tidak diukur dari usia, tapi aku berharap dengan bertambahnya usia dapat juga menumbuhkan kedewasaan di diri kita.
walau kehidupan remaja itu sederhana, tapi hidup memang tidak pernah sederhana. untuk itulah kita perlu dewasa demi menghadapinya.
amiiin.. semoga doa ini berpilin di udara dan dihijabah oleh Rabbanaa. Amiin ya Allah...


aku tahu, entah kapan kamu akan menyadari bahwa tulisan ini ada untukmu. aku tidak perduli. aku hanya ingin kamu tau bahwa aku mengetikannya dengan sangat tulus :)


SELAMAT ULANG TAHUN SAHABATKU..


gue sayang elo selamanya, sayang :)
wiza sayang wella :*


p.s.
jangan ketawa ya ciw. ini persembahan ke 4 dari gue. yang ke- 1, 2, 3 nya udah ketahuan belum? ;)

Selasa, April 24, 2012

mungkin saya sengaja

hi there! selamat malam semuanyaaaa... hidup mahasiswa!

so, ceritanya gue lagi semangat - semangatnya berorganisasi sekarang :D ibaratnya unggas, gue sedang mengepakkan sayap untuk terbang tinggi. asiiiiik...

dengan diamanahkan untuk menjadi panitia munas ismafarsi ke-14, mencoba ikut serta dalam open recruitment PEC (pharmacy english club), dan insya Allah akan mengikuti proyek besar asuhan orang hebat, senior yang gue hormati di kampus, sepertinya gue justru sengaja terlibat dalam berbagai kegiatan ini.

why? because it's a big chance menurut gue! why not? sebagai mahasiswa, khususnya mahasiswa farmasi, prodi yang sedang gue tekuni, adanya organisasi dan segala macam kegiatan itu adalah sebuah sarana buat gue. mumpung gratis, hanya bermodalkan keinginan untuk berkarya, kenapa tidak kita coba manfaatkan? sudah diberi pekerjaan kenapa tidak mencoba untuk bekerja? itung - itung cari pengalaman mengingat seumur hidup gue tidak mau hanya menghabiskan hidup gue hanya untuk menjadi mahasiswa.

mayoritas duduk di bangku kuliahan dan menjadi hantu laboratorium yang gue jalani untuk "menghabiskan waktu" gue harap tidak menjadi harga mati gue sebagai mahasiswa farmasi. ketemu orang yang "itu - itu saja" juga bukan pilihan dalam hidup gue.

kesengajaan ini adalah a good opportunity! hope so!

semangat, El!!!!

Minggu, April 08, 2012

BULAN

oh bulan...
bulan, bulan, bulan..
aku bulan
yang demi matahari


ingin bulan memeluk matahari
tapi bagaimana?
hanya untuk mengintip saja bulan tidak bisa
bukan malu
bukan takut
tapi silau matahari membutakan bulan


oh bulan...
bulan, bulan, bulan...
aku bulan
lalu apa yang bulan dapat lakukan?


bulan lantas berlari
tersaruk saruk
bersembunyi
tak pernah mendampingi matahari lagi
bahkan untuk menyapa saja aku tak sanggup


oh bulan...
bulan, bulan, bulan..
aku bulan
mungkin lebih baik begini


bulan muncul di langit yang masih sama
tapi dalam waktu tak serupa
begini lebih baik
maka selamanya bulan hanya mampu merindu


sekalipun terkadang aku muncul
tapi matahari tidak akan pernah melihat bulan
karena sinar matahari justru menutupi


ya, mungkin ini lebih baik
yang terbaik


oh bulan...
bulan, bulan, bulan..
aku bulan

Sabtu, Maret 31, 2012

aku tanpa minat

aku tanpa minat
by: wiza leila puspita sari


aku ingin berpuisi
layaknya penyair yang mahir dalam bermain kata
aku ingin bernyanyi
layaknya sang diva yang mahir dalam melantun nada
aku ingin menari
layaknya penari yang mahir dalam gerak selaras

tapi aku tak pandai berpuitis
puisiku berubah jadi mantra
tapi aku gagu
laguku lebih terdengar seperti raungan
tapi aku kaku
tarianku tak lebih dari gerik sebuah robot

wahai pemilik semesta yang enggan berpihak
sungguh kau tak izinkan aku mereguk minat
membiarkanku memberi tanpa merasa tepat
layaknya lilin
menerangi, tapi habis terbakar

akulah penyair tanpa puisi
akulah sang diva tanpa lagu
akulah penari tanpa gerik
aku, terlahir tanpa nikmat mereguk sebuah minat

Rabu, Maret 28, 2012

Jihan pada Tuhan (2)

Bandung, 2 April 2005

Tuhan,
udah lebih sebulan ternyata dari surat terakhir Jihan. Jihan kangen nih, pengen cerita - cerita. sebulan ini makasih atas apa yang sudah Tuhan berikan pada Jihan. susah senang memang silih berganti datang ke hidup Jihan. tapi Engkau dengan baiknya sudah mengirimkan MEREKA pada Jihan. MEREKA yang selalu bisa bikin Jihan senyum dalam menghadapi hari - hari dalam hidup Jihan, bahkan di saat - saat tersulit sekalipun.

tapi hari ini Jihan sedih sekali, Tuhan...
selama ini Jihan udah belajar untuk mencintai Jaden dengan cara yang sederhana.
selama ini Jihan belajar mencintai Jaden secara lugu.
seperti anak kecil yang mencintai benda kesayangannya secara tulus.
mereka tidak pernah mengeluh...

tapi layaknya cinta anak kecil, rasa memiliki Jihan ternyata sangat besar...
layaknya anak kecil, Jihan menangis saat kehilangan kesempatan mencinta itu Tuhan...

hari ini Jihan tau kalau untuk mencintai secara sederhana itu ternyata tidak pernah sederhana.
Jihan sadar mencintai setulus hati itu sangat sulit.
seperti Jaden, Jihan juga hanya ingin mencintai...

Jaden sudah menemukan cintanya, Tuhan...
Jihan hancur hari ini :(

Tuhan peluk Jihan dari semua ini, jauhkan Jihan dari segala urusan ini untuk sementara Tuhan
sampai Jihan sanggup dan kembali dapat memulai untuk mencintai secara sederhana :)


with love,

J

Sabtu, Maret 17, 2012

Jihan pada Tuhan

Bandung, 1 Maret '05


Tuhan,
ini Jihan. tadi Jihan liat Jaden. hari ini dia ganteeeeng... banget. biasanya juga ganteng sih. tapi nggak tau kenapa menurut Jihan hari ini Jaden keliatan keliatan lebih ganteng dari biasanya. mungkin karena Jaden hari ini pake baju warna biru tua, warna kesukaan Jihan. tapi nggak juga, sebelumnya Jaden juga sering pake baju warna itu, tapi nggak pernah seganteng hari ini.mungkin karena Jaden hari ini senyumin Jihan. tapi nggak juga, sebelumnya Jaden juga selalu senyum kalo lagi ngajakin Jihan ngobrol, tapi nggak pernah seganteng hari ini. apa mungkin Jaden kena semacam kutukan bakal bertambah ganteng setiap harinya? hihihi.. mana ada kutukan semacam itu. Jihan ngaco ya, Tuhan?


tapi hari ini Jihan menyadari sesuatu. selama ini ramahnya Jaden sama senyumnya memang bukan buat Jihan doang, Jihan tau semua itu Jaden kasih ke semua orang di dekatnya. tapi selama ini Jihan nggak liat ada yang ngerasa beda juga tiap liat semua yang dikasih Jaden itu, kecuali Jihan. nggak hari ini, Tuhan. Karina. entah kenapa Jihan rasa dia juga suka sama Jaden. Jihan nggak tau sejak kapan tepatnya, tapi hari ini Jihan liat itu ada di mata Karina juga, sewaktu dia mengobrol dengan Jaden. menanggapi gurauan Jaden, mengimbangi tawanya.


Tuhan...
Jihan egois banget ya! Jaden itu bukan milik Jihan kan? selama ini Jihan juga nggak maksa buat ingin memiliki dia. tapi kenapa setelah tau ada Karina yang juga merasakan sesuatu seperti Jihan, Jihan jadi nggak ikhlas. Jihan jadi ingin segalanya berpihak ke Jihan.waktu, momen - momen indah, kesempatan, Jihan jadi maruk menuntut semuanya untuk berpihak pada Jihan. Jihan kenapa, Tuhan?


Karina itu teman Jihan. tapi sekarang setiap melihat Karina, ada perasaan mengganjal di hati Jihan.


Jihan tulus sayang sama Jaden.
Karina juga mungkin sama tulusnya kayak Jihan.
tetapi kenapa Jihan malah merasa rasa rindu yang Jihan rasain ke Jaden nggak pernah sama kayak yang Karina rasain?
kenapa sekarang Jihan mulai merasa menuntut, Tuhan?


Tuhan,
maafin Jihan. Jihan udah egois. mungkin saat ini memang ini yang Jihan rasain... hati Jihan bilang ini karena Jihan sayang sama Jaden :)



sincerely,


J

Sabtu, Maret 03, 2012

You Belong with Me (Part 1)

hi there. cerita ini diilhami dari lagu yang dinyanyiin salah seorang penyanyi favorit gue. You Belong With Me by Taylor Swift. enjoy :) tapi part 1 nya dulu yaaa... hehehe :D


You Belong with Me


            Nadira menyibakkan tirai jendela kamarnya dan mendapati Alqa sedang serius menulis sesuatu di atas meja belajarnya. Cukup lamanya Nadira termenung memperhatikan anak tetangganya itu hingga dengan tiba – tiba Alqa mengangkat kepalanya. Pemuda itu tersenyum. Nadira tersentak dan sontak menutup tirai jendelanya dengan satu gerakan cepat. Nadira merasakan jantungnya berdegup kencang. Disibaknya sedikit tirai itu, mengintip. Ternyata Alqa masih berdiri di depan jendelanya. Menunggu gadis itu, seperti hendak menunjukkan sesuatu. Menyadari pemuda itu masih tetap menunggu, Nadira membuka tirainya semakin lebar.
            “Ngintip?” Tanya Alqa melalui kertas buku gambarnya yang ia tunjukan melalui jendela.
            “Nggak, kok!” balas Nadira dengan cara yang sama.
            “Terus?”
            “Lagi mikir.”
            “About me?”
            “Absolutely NOT!”
            Alqa menertawakan kekesalan Nadira. Gadis itu cemberut dan menutup kembali tirai jendelanya dengan sedikit kasar. Nadira kembali mengintip, Alqa masih tertawa di sana. Nadira tersenyum dan diam – diam merasa sangat senang melihat Alqa tertawa. Gadis itu membuka lembaran baru pada buku gambarnya dan menuliskan sederetan huruf berukuran besar di atasnya.
            ‘I Love You’
            Nadira mendekat ke jendela, ingin menunjukkan tulisan itu pada Alqa. Tapi hal itu tidak sempat dilakukannya karena tirai jendela kamar Alqa telah tertutup.

***
            Nadira duduk di bangku yang terletak di antara rumahnya dan rumah Alqa. Seperti biasa, gadis itu terlihat sedang membaca novel yang tebalnya bahkan melebihi kamus bahasa Inggris keluaran Oxford. Nadira adalah seorang kutu buku sejati! Itu pulalah alasan Alqa memberi panggilan khusus pada gadis itu, Bug. Alqa melihat gadis berkaca mata tebal yang sudah dianggapnya sahabat karib itu dan mendekatinya. Nadira kaget sedikit melihat Alqa telah duduk di sampingnya.
            “Hi, Bug!” sapa Alqa.
            “Hi…” balas Nadira malas.
            Alqa mengernyit sedikit mendengar sapaan dari sahabatnya itu. Alqa menarik kacamata tebal Nadira dengan raut cuek.
            “Apaan sih lo, Al? sini balikin kacamata gue!” sungut Nadira.
            “Siapa suruh elo nyuekin gue?” sahut Alqa cuek.
            Nadira kesal mendengar jawaban Alqa. Alqa memang benar, Nadira tidak seharusnya bersikap cuek terhadap Alqa. Tapi mau bagaimana lagi, setiap Alqa terlihat rapi dan wangi seperti ini, berarti pemuda itu sedang ada janji dengan seorang gadis yang merupakan gebetannya. Terang saja Nadira uring – uringan dibuatnya. Tapi dasar cowok, emang nggak peka!
            “Al, sini deh, balikin kacamata gue!” kata Nadira memohon.
            Alqa tersenyum cuek dan memasangkan kacamata tebal itu kembali ke wajah Nadira. Mata mereka bertemu sebentar sebelum Nadira buru – buru mengalihkan pandangannya. Alqa masih menatap Nadira, mencoba menemukan titik focus mata gadis itu, tapi ia telah berpaling. Akhirnya Alqa menghela napas.
            “Lagi baca apaan, sih?” Tanya Alqa.
            Nadira tidak menjawab, diangkatnya saja novelnya dan menunjukkan sampulnya pada Alqa. Alqa cuek – cuek saja.
            “Mau pergi, ya?” Tanya Nadira akhirnya, tidak tahan diam – diaman begitu dengan Alqa.
            “Ya.”
            “Dengan siapa kali ini?”
            Alqa tergelak. “Menurut lo gue ini cowok tengik yang suka ganti – ganti cewek, ya?”
            Nadira hanya mengangkat bahu.
            “Gue ada janji mau pergi nonton bareng Alexa.”
            Nadira melotot mendengar jawaban Alqa. “Alexa?!” tanyanya setengah teriak.
            Alqa mengangguk.
            “Kapten cheers tim rugby sekolah kita?” Nadira masih tidak percaya.
            Alqa mengangguk lagi. “Kenapa? Kok kayaknya lo nggak percaya gitu? Tim cheers kan latihannya di lapangan rugby, di situ gue kenal dia lebih dekat,” terang Alqa.
            “Hmm, yeah! Secara elo kapten tim rugby sekolah kita!” dengus Nadira sinis.
            Dan yang lo liat udah pasti kapten tim cheers, ketimbang gue yang Cuma seorang pemain clarinet grup drum band. Walaupun gue juga latihan di lapangan rugby, lo nggak pernah menyadarinya. Tambah Nadira dalam hati.
            Menyadari perubahan suasana hati Nadira, Alqa kembali menatap gadis itu. Kali ini Nadira tidak mengalihkan tatapannya. Mereka berdua terdiam sejenak, Alqa menyelipkan rambut Nadira ke balik telinga gadis itu untuk melihat wajahnya lebih jelas. Nadira merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Tidak ada dari mereka yang bergeming hingga suara klakson yang memekakkan telinga terdengar dari sebuah sedan merah super mewah yang berhenti di depan mereka.
            “Gue pergi dulu…” ujar Alqa lemah dan berjalan menuju mobil tersebut.
            Alexa tampak berdiri angkuh di sisi mobilnya, gadis itu memandang Nadira sinis. Tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tidak suka Nadira dekat – dekat dengan Alqa. Mobil itu berlalu, Alqa membuka jendelanya dan melambaikan tangan pada Nadira, gadis itu mebalas dengan lambaian lemah.
            Sampai kapan gue kayak gini? Batinnya geram.

***

            Nadira sedang duduk gelisah di dalam kamarnya. Dia melihat melalui jendela kamarnya ke kamar Alqa. Tapi pemuda itu tidak ada di sana. Cukup lama kamar itu kosong hingga kemudian Alqa masuk dengan telepon genggam di telinganya. Sepertinya pemuda itu sedang menelepon seorang gadis.
            Pasti si kapten cheers! Tebak Nadira.
            Tapi dari gelagatnya, sepertinya Alqa dan Alexa sedang ada masalah yang tidak baik. Dapat dilihat dari kekesalan yang tergambar di raut wajah Alqa, dan cara pemuda itu membanting ponselnya ketika pembicaraan telah usai. Alqa melihat ke jendela dan mendapati Nadira sedang menunjukkan sesuatu melalui buku gambarnya. Pemuda itu mendekat ke jendela untuk melihatnya lebih jelas.
            “You OK?” Tanya Nadira.
            “Tired of drama!”
            “Sorry…”
            Alqa hanya mengangkat bahu. Nadira sekali lagi menuliskan kalimat ‘I Love You’ dan akan menunjukkannya pada Alqa ketika pemuda itu baru saja menutup tirai jendelanya. Nadira merobek kertas tersebut dan bertekad secepatnya ia akan menyampaikan perasaannya ini pada Alqa.
            Nadira tau Alqa bahkan sebenarnya tidak pernah cocok dengan Alexa. Gadis itu pun yakin Alqa menyadari hal itu. Sifat mendominasi Alexa benar – benar menjadikan Alqa seolah – olah hanya kacung oleh gadis itu. Alexa tidak pernah tau apa yang sebenarnya disenangi oleh Alqa, bagaimana ia menyukai music jazz, tentang mimpinya untuk menjadi seorang musisi dan pencipta lagu dalam jenis music tersebut, bahkan tenatang dirinya yang sebenarnya tidak menyukai pergaulan yang terlalu bebas. Mungkin Alexa hanya tau bahwa Alqa menyenangi olahraga rugby. Jelas, karena pemuda itu sebagai kapten handal tim yang selalu membanggakan sekolah mereka.
            Satu hal yang lebih diyakini oleh Nadira, Alqa pun pasti tidak pernah menceritakan dirinya sedetil itu kepada Alexa yang merupakan tipikal gadis angkuh, egois, dan mendominasi, namun sangat cantik dan populer di sekolahan. Berbeda sekali jika pemuda itu sedang bersama Nadira. Alqa selalu menceritakan apapun tentang dirinya pada gadis itu. Alqa yang selalu berhias senyum, yang tidak pernah Nadira lihat dipertunjukkan pemuda itu kepada orang lain demi menjaga wibawanya sebagai kapten tim rugby kebanggaan sekolah.
            Hhh… nadira menghela napas. Diambilnya gitar kesayangannya yang disandarkan ke lemari. Jemarinya mulai memetik senar gitar, dan dari bibir mungilnya terdengar senandung pelan nan merdu.

But she wears shorts skirt, I wear T-Shirt
She’s cheer captain and I’m on the bleachers
Dreaming ‘bout the day when you wake up and find
That what you’re looking for has been here
The whole time…

***

25 minutes

25 minutes

      Saat ini aku sedang mengenang masa – masa indahku dengan Becky yang memang tidak berlangsung lama. Dan sekarang Becky menghilang entah kemana tanpa meninggalkan sepatah kata pun kepadaku.
      “Becky, aku akan selalu menyayangimu seperti ini. Tidak akan berkurang sedikitpun. Justru mungkin akan bertambah. Kuharap kau pun begitu padaku…”ujarku kepada Becky.
      “Oh, ayolah, Ron! Seperti aku akan meninggalkanmu saja! Itu tidak akan pernah terjadi. Kepada siapa lagi aku akan bermanja – manja seperti ini kalau bukan kepadamu?” goda becky kala itu dengan penuh senyuman kepadaku. Hal ini terasa sangat meyakinkan mengingat aku dan Becky adalah pasangan serasi yang selalu membuat iri teman – teman kami.
      Tapi sekarang? Entahlah! Aku bahkan tidak tahu apa alasannya pergi meninggalkanku. Sekali lagi kupandangi layar ponselku. Berharap Becky menghubungiku sedetik kemudian. Dan aku tetap tahu bahwa ini adalah pengharapan yang sia – sia.

$$$

      “Tammy, ku mohon beri tahu aku dimana Becky sekarang. Aku hampir putus asa mencarinya. Dan aku tahu kau pasti tahu dimana keberadaannya. Hanya kau satu – satunya sahabat terbaik Becky…” rayuku pada Tammy. Seperti yang telah kukatakan dia adalah satu – satunya sahabat terbaik Becky.
      “Memang begitulah seharusnya, Ronald! Tapi masalahnya, Becky pun ikut menghilang dariku. Aku benar – benar minta maaf!” ujarnya takut – takut. Aku yakin ada suatu hal yang dia coba sembunyikan dariku.
      “Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dariku, Tam?” tanyaku meyakinkannya.
      “Eh, ti – tidak. Kau kan pacar sahabatku. Apa yang harus kusembunyikan darimu, Ron?”
      “Hhh… baiklah kalau begitu. Aku permisi saja… mungkin memang belum takdirku untuk bertemu dengannya.”
      Aku pun meninggalkan Tammy. Dan sekali lagi aku tahu dia memandangku dengan tatapan mengiba. Seandainya aku tahu apa yang ia dan Becky sembunyikan dariku.

$$$

      “Nyonya Hess, mungkin saya telah menyakiti hati putri Anda. Untuk itu saya benar – benar minta maaf…” aku memohon pada nyonya Hess, ibu kandung Becky. Aku sekarang sedang duduk di sofa empuk di ruang tamu rumah keluarga Becky. Tapi ia tetap tidak ada di rumah.
      “Kau tidak salah, anakku. Tapi memang ada suatu hal yang aku tidak bisa sampaikan padamu. Aku sudah terlanjur berjanji pada Becky untuk tidak mengabari apapun tentangnya kepadamu.” Wajah Nyonya Hess kelihatan mengiba ketika menjawab permohonanku.
      “Sepertinya putri Anda benar – benar menginginkan saya bunuh diri di hadapan Anda!”
      “Kau tidak perlu melakukan itu, anakku. Putriku berpesan untuk menyampaikan sesuatu padamu…”
      Pernyataan Nyonya Hess membuat aku serasa memiliki sebuah harapan untuk dapat menemukan Becky dan membawanya kembali ke sisisku.
      “Apa katanya?” buruku.
      “Dia hanya berpesan agar kau terus mencari. Mungkin ada suatu tempat yang kau lewatkan. Mungkin kau tidak pernah berfikir untuk mencarinya di tempat tersebut,”jawab Nyonya Hess.
      Otakku berputar lebih cepat menanggapi satu – satunya petunjuk yang diberikan Becky kepadaku. Oh ayolah Ron, berpikirlah! Tempat dimana kau dan Becky pernah bertemu atau mungkin pergi bersama, dan aku tidak pernah berpikir Becky ada di sana! Aku tau, aku tau!  Gedung teater kampus kami! Mungkin itu tempatnya. Itu adalah tempat pertama kali aku bertemu Becky. Aku memang tidak pernah berpikir kenapa Becky akan menungguku di tempat itu? Karena kami sudah lulus sejak empat tahun yang lalu. Dan aku dan Becky pun tidak pernah lagi berkunjung ke tempat itu.

$$$

      Hari ini adalah hari minggu. Aku memiliki banyak waktu untuk mencari Becky dan memintanya kembali lagi padaku. Atau mungkin pertama – tama aku akan minta maaf dulu padanya. Aku sudah berdiri di hadapan kampus kami. Sepertinya sedang ada acara yang diselenggarakan karena ramai sekali mobil yang terparkir padahal hari ini seharusnya hari libur. Mungkin itu dia! Hari ini ada pertunjukan teater dan Becky bermaksud memberikan kejutan padaku dengan kehadirannya. Sama seperti waktu kami pertama kali bertemu dulu.
      Dengan riang aku melangkah terus hingga sampai di depan gedung pertunjukan teater. Jantungku berdegup kencang saat melihat seseorang yang sangat aku kenal berdiri hanya beberapa meter di depan mataku. Itu dia! Becky! Takdir akhirnya mempertemukan kembali aku dan Becky di tempat pertama kali kami bertemu. Tapi kalau boleh memilih, aku pun tidak bakal mau bertemu lagi dengannya jika keadaannya seperti sekarang.
      Itu benar – benar Becky. Dia tampak bahagia saat ini. Becky mengenakan gaun putih yang anggun, sehingga dia tampak benar – benar memesona. Siapapun yang hadir di sini pasti juga dapat merasakan kebahagiaannya. Tapi tidak dengan diriku.
      Bagaimana aku bias bahagia melihat Becky mengenakan gaun pengantin, dan di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tampak sangat serasi dengannya? Hatiku hancur di atas kebahagiaan orang yang paling kukasihi. Tanpa sadar aku menangis. Padahal menangis adalah pantangan bagi setiap laki – laki. Dan terlebih karena aku tidak mungkin menangis di hadapan orang banyak. Tatapanku bertemu dengan mata Becky. Ia melihatku dan tampak dari wajahnya raut sedih yang saat ini tidak ingin kulihat. Becky memanggil seseorang yang berada di dekatnya dan meminta kertas untuk ditulisi sesuatu. Orang itu kemudian datang padaku dan menyerahkan secarik kertas yang dititipkan Becky padanya.
      Aku membaca pesan yang ditinggalkan Becky dan berlari dari tempat itu menuju mobilku. Dengan sembrono aku mengendarai mobilku di jalan yang sedang ramai. Aku tidak memikirkan apa – apa lagi kecuali wajah dan tawa bahagia Becky dalam gaun pengantinnya. Dan aku tidak bisa merasakan apa – apa lagi sejak mobilku menghantam pembatas jalan tol dalam perjalanan pulang.


Boy I missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late
Though you travelled so far
Boy I’m sorry you are
Twenty five minutes too late

becky
 


















*this story is based on the song “25 mintues” by: MLTR